ASN IAIN Langsa Menjadi Teladan Pelaksanaan Moderasi Beragama

08 October 2025
Humas
40 views
Share
ASN IAIN Langsa Menjadi Teladan Pelaksanaan Moderasi Beragama

Kota Langsa (Humas) - Aparatur Sipil Negara (ASN) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa harus menjadi contoh teladan dalam pelaksanaan moderasi beragama dengan miliki sikap saling menghormati dan menghargai.

Demikian disampaikan Rektor IAIN Langsa Prof. Dr. H. Ismail Fahmi Arrauf Nasution, MA saat membuka acara sosialisasi moderasi beragama yang berlangsung di aula barat kampus setempat, Rabu (8/10/2025).

Menurut rektor, nilai-nilai moderasi beragama harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam melaksanakan pekerjaan. 

Salah satu contoh moderasi beragama dalam dunia pekerjaan yaitu adanya sikap saling menghargai dan menghormati antar sesama ASN. 

Rektor menganalogikan bahwa dosen dan tenaga kependidikan (tendik) merupakan dua sayap utama yang membuat lembaga terbang tinggi menuju unggul, sama-sama penting.

"Antara dosen dan tendik tidak boleh saling meremehkan dan menganggap dirinya lebih penting. IAIN Langsa punya dua sayap utama. Sayap kanan adalah dosen dan sayap kiri adalah tendik. Jika salah satu sayap patah, maka tidak bisa bekerjasama menggunggulkan lembaga," ujarnya.

Dikatakan Rektor, dosen memiliki peran dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Sedangkan tendik mendukung jalannya Tri Dharma dengan pelayanan administratif. Jika salah satu sayap patah, maka sayap yang lain tidak bisa digunakan untuk terbang. Inilah salah satu fungsi moderasi beragama. 

Dua sayap utama ini diharapkan dapat menjadikan moderasi beragama sebagai identitas pekerjaannya sehingga dapat menjalankan lembaga menuju unggul dengan saling bergandengan tangan tanpa saling meremehkan.

Selanjutnya, dosen dan tendik diminta untuk memiliki keseimbangan antara agama, pekerjaan, dan keluarga.

"Inti moderasi beragama adalah keseimbangan, tidak ekstrim dan tidak longgar. Terlalu ekstrem maka akan menyebabkan konflik, terlalu longgar maka akan melemahkan keyakinan sehingga mudah meninggalkan perintah agama dan melakukan yang dilarang agama," tandasnya.

"Kita harus berkomitmen untuk menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama, harus mampu mengatur keseimbangan antara ibadah, pekerjaan, dan keluarga," lanjutnya.

Terakhir, Prof. Fahmi mengajak peserta untuk menjadikan moderasi beragama sebagai identitas lembaga yang moderat dan berbudaya.

"Mari kita jadikan moderasi beragama ini identitas lembaga yg inklusif dan terbuka bagi semua orang. Mengutamakan dialog, musyawarah, dan diskusi, serta tidak mudah menghakimi dan menyebarkan fitnah," imbuhnya.