AICIS 2025 Tonggak Peradaban Islam Indonesia yang Solutif

10 July 2025
Legacy Editor
245 views
Share
AICIS 2025 Tonggak Peradaban Islam Indonesia yang Solutif

Kota Langsa (Humas) -- Sebagai Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa, saya menyambut penuh langkah progresif Kemenag dalam menggelar AICIS+ 2025.

Transformasi konferensi ini, dari memfokus pada kajian teks menjadi forum multilateral yang mengintegrasikan Islam, sains, dan masyarakat, adalah tanda yang sangat baik bagi peradaban intelektual Islam Indonesia.

1. Menyatukan Spiritualitas dan Rasionalitas. Penambahan kata “Science” dan “Society” dalam AICIS+ tidak hanya simbolis. Ia mencerminkan kesadaran bahwa solusi atas krisis lingkungan, teknologi, dan kemanusiaan memerlukan kesadaran spiritual plus pendekatan ilmiah. Konteks ini sangat relevan dengan kondisi global saat ini, perubahan iklim membunuh jutaan orang, lebih buruk daripada konflik bersenjata.

2. Indonesia sebagai Centre of Islamic Thought. Penunjukan UIII sebagai tuan rumah dan keterlibatan perguruan tinggi besar seperti ITB dan IPB menunjukkan tekad menjadikan Indonesia sentra kajian Islam global. Ini membuka peluang untuk memajukan penelitian berbasis lokal, khas Asia Tenggara, dan mempersiapkan intelektual Islam yang relevan di era digital.

3. Ekoteologi dan Teknologi Sebagai Fokus Inovatif Dengan tema “Islam, Ekoteologi, dan Transformasi Teknologi”, konferensi ini akan menyatukan pandangan teologis dan solusi teknologi dalam satu forum. Hal ini sejalan dengan kebutuhan masa depan: agama tidak cukup hanya di ranah ritual, melainkan juga harus aktif dalam menangani krisis lingkungan dan sosial.

4. Dampak Akademik dan Sosial untuk Civitas. Keterlibatan rektor dan akademisi senior dalam AICIS+ menegaskan bahwa dialog ilmiah mesti mengalir ke kebijakan nyata dan praktik sosial.

Sebagai rektor, saya memandang ini sebagai peluang emas untuk membangun jaringan riset, pertukaran akademik, serta kolaborasi riset terapan lintas PTKI, termasuk dari Aceh.

Penutup dan Harapan

AICIS+ 2025 bukan sekadar konferensi, tetapi manifestasi diplomasi ilmiah Islam yang solutif. Ia menjadi jembatan antara iman dan rasio, kampus dan masyarakat, lokal dan global. Semoga momentum ini dapat menginspirasi seluruh sivitas akademika perguruan tinggi Islam di negeri ini, termasuk IAIN Langsa, untuk lebih aktif berkontribusi pada tatanan dunia yang adil dan berkelanjutan.

 

Penulis : Prof. Dr. H. Ismail Fahmi Arrauf Nasution, MA/Rektor IAIN Langsa.

Artikel ini ditulis oleh : Legacy Editor