Nasaruddin Umar, Ulama Nusantara yang Menyinari Perdamaian Dunia

28 October 2025
Legacy Editor
91 views
Share
Nasaruddin Umar, Ulama Nusantara yang Menyinari Perdamaian Dunia

Jakarta (Humas) — Di tengah dunia yang kerap dilanda ketegangan atas nama agama dan identitas, hadir seorang ulama yang menembus batas sekat itu dengan keteduhan, ilmu, dan kasih sayang. Sosok itu adalah Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., Cendekiawan Muslim Global yang kiprahnya melampaui ruang-ruang akademik dan diplomasi biasa. Ia adalah jembatan spiritual antaragama, simbol peradaban yang menjadikan Islam sebagai energi kedamaian bagi seluruh umat manusia.

Nama Nasaruddin Umar kini kian berkibar sebagai tokoh lintas agama dunia yang berpengaruh dalam membangun jembatan perdamaian global. Dengan konsistensi dan ketulusan langkah, ia layak diusulkan sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian, penghargaan tertinggi bagi mereka yang mempersembahkan hidupnya bagi kemanusiaan dan harmoni dunia.

Sebagai Cendekiawan Muslim Global, Nasaruddin Umar menempatkan Islam bukan sebagai tembok keyakinan, melainkan taman kebajikan yang meneduhkan bagi siapa pun. Konsepnya tentang Islam Rahmatan lil ‘Alamin ia bawa ke forum-forum internasional—mulai dari Vatikan, Universitas Al-Azhar Mesir, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia berdialog bukan sekadar lewat wacana, tetapi melalui persahabatan dan pertemuan spiritual yang menghidupkan semangat kemanusiaan universal.

Sebagai Tokoh Lintas Iman Dunia, Nasaruddin Umar kerap diundang dalam pertemuan pemimpin agama global, termasuk Forum Daring Peace di Vatikan yang diselenggarakan Komunitas Sant’Egidio. Di hadapan para kardinal, uskup, dan imam besar dunia, ia dengan penuh kelembutan menegaskan bahwa “persaudaraan tidak mengenal batas agama.”

Kehadirannya—termasuk saat berjumpa Paus Fransiskus—bukan sekadar simbol toleransi, melainkan bukti nyata bahwa spiritualitas dapat mengatasi sekat teologi. Sebagai Intelektual Global, Nasaruddin Umar dikenal luas melalui karya-karya akademiknya yang mendalam tentang tafsir, gender, dan perdamaian.

Buku-bukunya menjadi rujukan di berbagai universitas internasional. Dalam kapasitasnya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, ia mentransformasi masjid kebanggaan bangsa itu menjadi pusat peradaban inklusif, tempat pertemuan lintas iman, diplomasi, dan dialog kebangsaan. Dari ruang suci Istiqlal, gema Islam yang ramah dan berkeadaban menggema ke seluruh penjuru dunia. Puncak kiprah diplomasi spiritualnya tampak pada Deklarasi Istiqlal yang lahir saat kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada tahun 2024.

Deklarasi itu menegaskan Indonesia sebagai model harmoni antaragama dunia—dan menjadi tonggak baru diplomasi spiritual yang diakui internasional. Di tengah arus globalisasi yang sering kali memperuncing perbedaan, Nasaruddin Umar menghadirkan perspektif baru: bahwa agama bukan sumber konflik, melainkan energi untuk memperkuat kemanusiaan. Dunia, menurutnya, tidak membutuhkan dominasi satu agama, tetapi sinergi spiritual untuk membangun masa depan yang damai.

Dengan seluruh pengabdian dan gagasannya, Nasaruddin Umar pantas dinobatkan sebagai “Diplomat Moral Dunia” — suara kedamaian dari Timur yang bergema hingga Barat. Dari Jakarta ke Vatikan, dari Al-Azhar ke New York, pesan yang ia bawa selalu sama dan tulus: Cinta kasih, persaudaraan, dan kemanusiaan adalah bahasa universal umat manusia.

Penulis adalah Prof. Dr. H. Ismail Fahmi Arrauf Nasution, MA/Rektor IAIN Langsa.

Artikel ini ditulis oleh : Legacy Editor